PKB ingin memastikan calon pemimpin yang dipilih memiliki kualitas, integritas, serta kapasitas untuk bekerja dan membawa organisasi menghadapi agenda politik ke depan.
HarianTanahAir | JAKARTA — Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DKI Jakarta mulai menata barisan menuju Pemilu 2029. Seleksi calon pemimpin dilakukan secara berjenjang dari tingkat pusat hingga ranting melalui Uji Kepatutan dan Kelayakan (UKK).
Sekretaris Wilayah (Sekwil) DPW PKB DKI Jakarta, H. Mohammad Fauzi, mengatakan UKK terhadap bakal calon Ketua Dewan Pengurus Anak Cabang (DPAC) PKB se-DKI Jakarta merupakan bagian dari rangkaian seleksi kepengurusan yang telah dilakukan mulai dari tingkat pusat hingga struktur paling bawah.
“Ini merupakan ikhtiar PKB menuju partai yang modern dan profesional,” ujar Fauzi kepada media di sela UKK calon Ketua PAC PKB se-DKI Jakarta di Kantor DPW PKB Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Menurut Fauzi, proses tersebut bukan sekadar mencari orang untuk mengisi struktur partai. PKB ingin memastikan calon pemimpin yang dipilih memiliki kualitas, integritas, serta kapasitas untuk bekerja dan membawa organisasi menghadapi agenda politik ke depan.
Proses seleksi pun tidak semata-mata didasarkan pada besarnya jumlah pendukung. Fauzi menegaskan, ukuran kepemimpinan harus lebih jauh dari sekadar popularitas atau kekuatan suara.
“Mencari pemimpin tidak tergantung pada jumlah suara pendukung, tapi pada kualitas, integritas, serta kapasitas calon,” katanya.
UKK dilakukan secara berjenjang di lingkungan PKB, mencakup DPP, DPW, DPC hingga DPAC. Mekanisme tersebut diarahkan untuk membangun struktur organisasi yang lebih solid sekaligus menyiapkan kader yang memiliki kemampuan kerja politik menjelang Pemilu 2029.
Bagi PKB Jakarta, konsolidasi organisasi menjadi bagian penting dari persiapan menghadapi kontestasi politik berikutnya. Pemilu 2029 masih beberapa tahun lagi, tetapi proses mencari dan menyiapkan calon pemimpin telah dimulai dari sekarang.
Dengan mekanisme seleksi berlapis itu, PKB hendak mengubah cara pandang dalam memilih pemimpin partai: bukan siapa yang paling banyak membawa suara, melainkan siapa yang paling siap memikul tanggung jawab. (***)



























