HARIAN TANAH AIR. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Abdul Muhaimin Iskandar memberikan apresiasi besar kepada para santri. Beliau melepas sekitar 175 lulusan SMA, MA, dan SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA). Acara pelepasan berlangsung di Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu (28/6/2026). Para lulusan ini akan segera melanjutkan studi ke berbagai negara seperti China dan Tunisia.
Tiga Syarat Utama bagi Santri Masa Depan
Cak Imin menekankan pentingnya bekal bagi santri untuk menghadapi persaingan dunia. Beliau merumuskan tiga syarat utama yang harus dimiliki setiap lulusan pesantren. “Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama, memiliki skill atau kemampuan. Kedua, memiliki integritas. Ketiga, taat asas terhadap ilmu pengetahuan,” tegasnya. Pesan ini beliau sampaikan melalui keterangan resmi di Jakarta, Senin.
Indonesia saat ini tengah menikmati masa bonus demografi yang sangat berharga. Periode ini akan menentukan arah pembangunan bangsa dalam beberapa tahun ke depan. Cak Imin meminta para lulusan untuk menyadari peran mereka dalam momentum besar ini. Mereka merupakan aktor kunci yang akan memegang kendali kepemimpinan di masa mendatang.
“Kalau sekarang kalian lulus, berarti pada 2030 kalian sudah mulai memegang kendali,” ungkap Cak Imin. Beliau berharap para lulusan BIMA dapat meraih kesuksesan yang lebih besar darinya. “Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA pada 2030 tidak boleh gagal,” tambahnya. Modal besar yang dimiliki santri menjadi kunci keberhasilan Indonesia Emas 2045.
Sebaran Destinasi Pendidikan dan Prestasi Santri
Pengasuh Pesantren BIMA, Imam Jazuli, memberikan penjelasan mengenai tujuan pendidikan para santrinya. Selain China dan Tunisia, santri juga memilih melanjutkan pendidikan ke Rusia. Beberapa santri lainnya memilih universitas di berbagai negara Timur Tengah. Selain itu, prestasi membanggakan juga datang dari jalur perguruan tinggi negeri di dalam negeri.
Sebanyak 99 santri berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia. Mereka mayoritas memilih program studi umum yang sangat dibutuhkan oleh bangsa saat ini. Pemilihan program studi tersebut sudah disesuaikan dengan kebutuhan strategis negara ke depan.
Mengubah Paradigma Pendidikan Pesantren
Pesantren masa kini harus mampu melampaui standar pendidikan konvensional. Imam Jazuli berpendapat bahwa mencetak santri saleh saja tidak cukup. Pesantren perlu melahirkan generasi yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh bangsa. Visi ini ingin ia tularkan ke pesantren-pesantren lain di seluruh Indonesia.
“Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama,” ujar Imam Jazuli. Ia ingin pesantren tidak sekadar mencetak santri saleh. Pesantren harus mencetak santri yang bermanfaat bagi pembangunan negeri. Santri masa depan harus mampu menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara. Langkah ini diharapkan memperkuat kontribusi santri dalam membangun Indonesia yang lebih maju.



























