HarianTanahAir | Jakarta — Di kejauhan, hamparan perbukitan itu tampak seperti bentang alam biasa. Hijau nyaris tak terlihat, digantikan warna abu-abu kecokelatan yang memanjang hingga ke cakrawala. Namun ketika angin berembus, aroma menyengat segera menghapus ilusi itu. Bukit-bukit tersebut bukan bentukan alam, melainkan gunungan sampah yang selama puluhan tahun menjadi tempat berakhirnya kehidupan sehari-hari warga Jakarta.
Di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Kota Bekasi, ribuan truk datang silih berganti setiap hari. Dari rumah, pasar, pusat perbelanjaan, gedung perkantoran, hingga restoran di ibu kota, sampah mengalir tanpa jeda. Seolah ada satu fakta yang tak pernah berhenti: Jakarta terus memproduksi sampah, bahkan ketika sebagian besar warganya sedang tertidur.
Setiap harinya sekitar 8.000 ton sampah diangkut menuju Bantar Gebang menggunakan sekitar 1.400 truk. Dalam hitungan jam, gunungan sampah bertambah sedikit demi sedikit, membentuk lanskap yang kini menjadikan kawasan itu sebagai salah satu lokasi pembuangan sampah terbesar di Asia.
Bagi Jakarta, Bantar Gebang bukan sekadar tempat pembuangan akhir. Ia telah menjadi simbol dari pola konsumsi kota metropolitan yang terus tumbuh, sementara kemampuan mengelola limbah berjalan jauh lebih lambat.
Selama bertahun-tahun, sistem yang digunakan masih bertumpu pada pola lama: kumpulkan, angkut, lalu buang. Sampah rumah tangga yang sebenarnya masih bisa dipilah sejak dari sumber bercampur menjadi satu. Plastik, sisa makanan, kaca, logam, hingga limbah lain berakhir di tempat yang sama.
Padahal, menurut berbagai penelitian mengenai pengelolaan sampah perkotaan, sisa makanan atau sampah organik merupakan komponen terbesar timbulan sampah rumah tangga. Bila dipisahkan sejak awal untuk dijadikan kompos atau diolah menjadi energi, volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang secara signifikan.
Namun kebiasaan memilah sampah belum menjadi budaya yang mengakar.
Akibatnya, Bantar Gebang terus menanggung beban yang semakin berat.
Di balik gunungan sampah itu, ribuan orang justru menggantungkan hidup. Mereka memilah plastik, botol, logam, kardus, hingga barang-barang yang masih memiliki nilai jual. Sebagian telah bekerja di sana sejak kecil. Penghasilan mereka memang tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menyekolahkan anak-anak mereka.
Ironisnya, tempat yang bagi sebagian orang dianggap sebagai akhir dari sebuah benda, justru menjadi awal kehidupan bagi orang lain.
Pekerjaan mereka bukan tanpa risiko. Alat berat terus bergerak. Truk keluar masuk hampir sepanjang hari. Gas metana dari tumpukan sampah dapat memicu kebakaran, sementara air lindi mengalir membawa berbagai zat pencemar ke lingkungan sekitar.
Risiko itu menjadi nyata ketika longsor sampah terjadi pada Maret 2026. Gunungan sampah runtuh setelah hujan deras, menewaskan tujuh orang. Tragedi tersebut menjadi pengingat bahwa gunung sampah bukan hanya persoalan estetika kota, melainkan ancaman keselamatan manusia.
Peristiwa itu juga memicu evaluasi nasional terhadap praktik open dumping, yakni metode pembuangan sampah secara terbuka yang masih diterapkan di banyak daerah.
Pemerintah kini menargetkan penghentian praktik tersebut dan mendorong transformasi menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern. Salah satu langkahnya adalah mempercepat pemilahan sampah dari sumber, memperluas fasilitas pengolahan, serta mengembangkan pembangkit listrik berbasis sampah (waste-to-energy) di berbagai kota.
Meski demikian, perubahan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Pengalaman di sejumlah daerah menunjukkan bahwa ketika tempat pembuangan dibatasi sementara sistem pemilahan belum berjalan baik, sampah justru menumpuk di jalan, sungai, bahkan dibakar secara terbuka. Infrastruktur, perubahan perilaku masyarakat, hingga kepastian nasib para pekerja sektor informal menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersamaan.
Bagi Jakarta, persoalan sampah sesungguhnya dimulai jauh sebelum truk pertama meninggalkan rumah-rumah warga.
Ia dimulai ketika makanan berlebih dibuang begitu saja. Ketika kantong plastik sekali pakai digunakan tanpa berpikir dua kali. Ketika botol minuman yang masih dapat didaur ulang berakhir di tempat sampah bercampur dengan limbah organik.
Setiap keputusan kecil itu akan bertemu di satu titik yang sama: Bantar Gebang.
Sebagai kota dengan lebih dari sepuluh juta penduduk dan pusat aktivitas ekonomi nasional, Jakarta menghadapi tantangan yang hampir pasti akan terus membesar apabila pola konsumsi tidak berubah. Pertumbuhan penduduk, meningkatnya layanan pesan antar, perdagangan daring, dan budaya serba praktis ikut mendorong lonjakan sampah kemasan dalam beberapa tahun terakhir.
Karena itu, solusi tidak cukup hanya membangun tempat pembuangan yang lebih luas.
Yang jauh lebih penting adalah mengurangi sampah sebelum ia lahir.
Memilah sampah di rumah, mengurangi plastik sekali pakai, memperpanjang umur pakai barang, hingga memperkuat ekonomi daur ulang merupakan langkah-langkah sederhana yang dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar memperbesar kapasitas tempat pembuangan akhir.
Bantar Gebang mengajarkan satu hal yang sering terlupakan oleh kota besar.
Tidak ada benda yang benar-benar “hilang” ketika dibuang ke tempat sampah. Ia hanya berpindah tempat—ke pinggiran kota, ke gunungan sampah, ke sungai, atau bahkan kembali kepada manusia dalam bentuk pencemaran udara, tanah, dan air.
Maka, ketika Jakarta bercita-cita menjadi kota global yang lebih hijau dan berkelanjutan, pertanyaan terbesarnya bukan lagi di mana sampah akan dibuang.
Melainkan, bagaimana sebuah kota belajar menghasilkan sampah yang lebih sedikit.
Karena masa depan Jakarta, pada akhirnya, tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung pencakar langit yang terus menjulang, tetapi juga oleh seberapa cepat kota ini mampu menghentikan pertumbuhan gunung-gunung sampah yang diam-diam terus meninggi.



























