HARIANTANAHAIR | Jakarta ~ Tahun baru selalu datang membawa harapan. Namun, tidak semua tahun baru disambut dengan pesta kembang api, hitung mundur, atau gegap gempita media sosial. Tahun Baru Islam hadir dengan cara yang lebih tenang. Ia mengetuk kesadaran, bukan mengundang keramaian. Ia meminta refleksi, bukan selebrasi. Di tengah kehidupan yang serba cepat, 1 Muharram seolah menjadi jeda yang semakin jarang kita berikan kepada diri sendiri. Kalender berganti, usia bertambah, target diperbarui.
Tetapi apakah kita benar-benar berubah?
Pertanyaan itu terasa relevan ketika melihat kehidupan perkotaan hari ini. Jalanan semakin padat, gedung semakin tinggi, teknologi semakin canggih. Namun pada saat yang sama, kita menyaksikan paradoks yang tidak kalah besar: semakin banyak orang hidup berdekatan, tetapi semakin sedikit yang benar-benar saling memperhatikan.
Kita mudah mengetahui kabar dari belahan dunia lain, tetapi sering tidak mengenal tetangga sendiri. Kita cepat memberikan komentar di media sosial, tetapi lambat mengulurkan tangan kepada mereka yang membutuhkan bantuan di sekitar kita.
Barangkali, inilah bentuk apatisme modern yang paling halus. Ia tidak selalu muncul dalam bentuk ketidakpedulian yang terang-terangan. Ia hadir dalam kesibukan yang terus-menerus. Dalam alasan bahwa semua orang sedang mengejar urusannya masing-masing.
Muharram mengingatkan bahwa perubahan besar dalam sejarah tidak pernah lahir dari sikap masa bodoh. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah keberanian meninggalkan kebiasaan lama menuju tatanan yang lebih baik dan lebih berkeadilan.
Ketika Kepedulian Menjadi Barang Mewah
Di kota besar, perhatian sering menjadi komoditas yang mahal. Semua orang tampak sibuk. Semua orang memiliki agenda. Bahkan waktu untuk mendengarkan orang lain terasa semakin terbatas.
Fenomena ini terlihat dalam banyak persoalan sosial. Kekerasan terhadap perempuan dan anak masih terjadi. Lansia kerap dipandang sebagai kelompok yang harus menyesuaikan diri dengan kota, bukan sebaliknya. Penyandang disabilitas masih menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses ruang publik. Lingkungan terus menanggung beban sampah yang kita hasilkan setiap hari.
Ironisnya, sebagian besar persoalan tersebut bukan semata-mata karena kurangnya aturan. Yang sering kurang adalah perhatian.
Kita hidup pada zaman ketika respons terhadap sebuah tragedi bisa muncul dalam hitungan detik. Tagar bermunculan. Unggahan beredar luas. Namun perhatian publik juga menghilang secepat kemunculannya. Hari ini ramai, besok terlupakan.
Ada kecenderungan untuk merasa sudah cukup peduli hanya karena telah mengetahui sebuah masalah. Padahal mengetahui dan peduli adalah dua hal yang berbeda. Mengetahui adalah soal informasi. Peduli adalah soal tindakan.
Dalam konteks itulah, semangat hijrah menemukan relevansinya. Ia mengajak kita berpindah dari sekadar menjadi penonton menjadi bagian dari solusi. Sekecil apa pun perannya.
Hijrah yang Dibutuhkan Hari Ini
Mungkin tantangan terbesar masyarakat modern bukanlah kekurangan pengetahuan, melainkan kekurangan empati. Kita dibanjiri data, tetapi sering kehilangan rasa. Kita terhubung dengan ribuan akun, tetapi belum tentu dekat dengan sesama manusia.
Karena itu, hijrah yang dibutuhkan hari ini bukanlah perpindahan tempat. Melainkan perpindahan cara pandang.
Dari mengeluh menjadi berkontribusi. Dari acuh menjadi peduli. Dari sekadar mengomentari menjadi ikut memperbaiki.
Kepedulian tidak selalu harus hadir dalam langkah besar. Ia bisa dimulai dari hal-hal sederhana: menghormati pengguna transportasi umum lain, membantu warga yang membutuhkan, menjaga kebersihan lingkungan, atau meluangkan waktu untuk mendengarkan orang yang sedang menghadapi kesulitan.
Perubahan sosial yang besar hampir selalu berawal dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.
Momentum 1 Muharram 1448 Hijriah menjadi pengingat bahwa pergantian tahun tidak otomatis menghadirkan perubahan. Yang mengubah keadaan adalah manusia yang bersedia mengubah dirinya terlebih dahulu.
Di tengah kota yang semakin sibuk, mungkin bentuk hijrah paling relevan hari ini adalah meluangkan sedikit ruang untuk peduli. Sebab kota yang maju bukan hanya tentang jalan yang mulus atau gedung yang menjulang. Kota yang benar-benar maju adalah kota yang warganya masih memiliki waktu untuk melihat, mendengar, dan merasakan kehadiran sesamanya.
Dan barangkali, di situlah makna tahun baru yang sesungguhnya dimulai. Bukan ketika kalender berganti, melainkan ketika hati memutuskan untuk tidak lagi bersikap masa bodoh.


























