Gus Yusuf sekaligus mengingatkan agar pemilihan Ketua Umum PBNU tidak dikotori politik uang. “Para peserta Muktamar dapat memilih calon murni menggunakan hati nurani tanpa ada intervensi politik uang,” kata Gus Yusuf seperti dikataan kepada awak media, Sabtu (2/8/2026).
HarianTanahAir | JOMBANG — Bursa Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama atau PBNU sempat mengarah pada pertarungan terbuka antara KH Muhammad Yusuf Chudlori alias Gus Yusuf dan KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin. Keduanya sama-sama menyatakan kesiapan maju dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Namun arena pertarungan itu berubah sebelum suara diberikan. Sidang pleno Muktamar ke-35 NU akhirnya memutuskan pemilihan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031 menggunakan mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). Keputusan ini diambil setelah perdebatan alot antara kubu yang menghendaki pemilihan langsung oleh muktamirin dan mereka yang mendorong mekanisme AHWA. Dari 552 suara sah, 401 muktamirin menyetujui perubahan mekanisme, 150 menolak, dan satu suara dinyatakan tidak sah.
Perubahan itu membuat kontestasi tidak lagi semata-mata soal siapa mengantongi dukungan PCNU terbanyak. Para kandidat kini harus melewati pintu yang lebih sempit: memperoleh persetujuan tertulis atau restu Rais Aam terpilih sebelum namanya diproses oleh AHWA.
Sebelum mekanisme tersebut diputuskan, Gus Yusuf telah bergerak mengonsolidasikan dukungan. Dalam pertemuan dengan sejumlah pimpinan cabang NU pada Jumat, 28 Agustus 2026, pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, itu mengklaim telah memperoleh dukungan lebih dari 200 PCNU dari berbagai daerah.
Gus Yusuf sekaligus mengingatkan agar pemilihan Ketua Umum PBNU tidak dikotori politik uang. “Para peserta Muktamar dapat memilih calon murni menggunakan hati nurani tanpa ada intervensi politik uang,” kata Gus Yusuf seperti dikataan kepada awak media, Sabtu (2/8/2026).
Klaim dukungan lebih dari 200 PCNU itu menjadi modal penting jika pemilihan dilakukan secara langsung. Tetapi setelah AHWA dipilih sebagai mekanisme, angka dukungan tersebut tidak otomatis berbanding lurus dengan peluang kemenangan.
Di sisi lain, Gus Kikin maju dengan modal berbeda. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, itu menyatakan pencalonannya lahir dari dorongan jajaran PWNU dan PCNU dari berbagai daerah.
Gus Kikin bukan nama baru dalam peta organisasi NU. Ia memimpin PWNU Jawa Timur dan memiliki basis kuat di lingkungan pesantren. Jawa Timur sendiri merupakan salah satu kantong penting dalam struktur NU. Tetapi pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU kini bukan sekadar adu basis dukungan.
Mekanisme AHWA mengubah peta permainan.
Kandidat tidak cukup populer di tingkat cabang. Mereka harus mampu diterima oleh struktur ulama yang memiliki kewenangan menentukan Rais Aam, sekaligus memperoleh restu sebelum proses penetapan Ketua Umum berlangsung.
Di titik inilah kontestasi Muktamar ke-35 NU menjadi lebih menarik. Nama-nama yang sebelumnya ramai dalam bursa—termasuk petahana KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya—tidak serta-merta dapat dihitung hanya berdasarkan jumlah dukungan organisasi yang diklaim masing-masing kubu.
AHWA memindahkan sebagian pusat gravitasi pemilihan: dari pengerahan suara menuju konsolidasi ulama.
Gus Kikin sendiri belakangan menegaskan bahwa siapa pun yang terpilih harus mampu menjaga kerukunan warga NU. Menurut dia, perbedaan pilihan dalam Muktamar tidak seharusnya merusak hubungan antarkader.
Pesan itu menjadi penting karena perubahan mekanisme pemilihan sempat memunculkan perdebatan keras di arena Muktamar.
Muktamar NU kali ini akhirnya bukan hanya tentang siapa yang menjadi Ketua Umum PBNU. Ia juga menjadi ujian tentang bagaimana organisasi sebesar NU mengelola perbedaan kepentingan tanpa kehilangan tradisi musyawarah dan kebersamaan.
Gus Yusuf sudah mengklaim dukungan ratusan PCNU. Gus Kikin membawa dukungan dari sejumlah PWNU dan PCNU. Gus Yahya datang sebagai petahana dengan pengalaman memimpin organisasi selama satu periode.
Tetapi setelah AHWA dipilih, satu hal menjadi jelas: jumlah dukungan yang terlihat di permukaan belum tentu menjadi penentu terakhir.
Pertarungan sesungguhnya kini bergerak ke ruang yang lebih senyap—ruang konsolidasi para ulama, penentuan Rais Aam, dan akhirnya keputusan AHWA tentang siapa yang akan memimpin NU untuk lima tahun mendatang. Di situlah kursi Ketua Umum PBNU benar-benar diperebutkan. (***).



























