HARIANTANAHAIR.COM I Jakarta — Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau bukan sekadar membuat langit kelabu. Partikel halus yang beterbangan dapat masuk ke saluran pernapasan, mengiritasi mata dan kulit, hingga mencemari air serta makanan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di wilayah terdampak tidak panik dan mengurangi aktivitas di luar rumah.
Imbauan itu disampaikan setelah Gunung Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam, sejak Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu, 6 September pukul 00.04 WIB. PVMBG menyatakan episode tersebut telah berakhir, tetapi aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Potensi letusan susulan dinilai masih tinggi, dengan ancaman antara lain lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.
Menkes Budi mengatakan udara yang tercampur abu vulkanik dapat mengganggu sistem pernapasan. Gejalanya antara lain iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, produksi dahak, mengi, rasa berat di dada, hingga sesak napas. Paparan juga dapat memperburuk kondisi penderita asma, penyakit paru obstruktif kronik, bronkitis kronis, penyakit paru lainnya, serta penyakit jantung.
Bukan hanya paru-paru yang menjadi sasaran. Mata juga rentan terkena partikel abu. Paparan dapat menyebabkan mata merah, perih, berair, gatal, sensasi seperti kemasukan benda asing, bahkan abrasi kornea akibat gesekan partikel. Kulit pun dapat mengalami iritasi, kemerahan, dan gatal.
Risikonya tidak berhenti pada tubuh. Kementerian Kesehatan memperingatkan abu vulkanik dapat mencemari sumber air terbuka, tempat penampungan air, serta makanan yang tidak terlindungi. Abu juga dapat mengganggu keselamatan di jalan karena mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan licin.
Karena itu, Budi meminta masyarakat yang wilayahnya terdampak untuk lebih banyak berada di dalam rumah dan keluar hanya bila ada keperluan mendesak. Bila harus beraktivitas di luar, masyarakat dianjurkan menggunakan masker, dengan KN95 sebagai pilihan utama. Bila tidak tersedia, masyarakat tetap diminta menggunakan masker yang ada atau setidaknya menutup hidung dan mulut. Untuk melindungi mata, penggunaan kacamata juga dianjurkan.
Ada pula cara yang keliru saat membersihkan abu. Menkes mengingatkan agar abu vulkanik tidak langsung disapu ketika kering, karena tindakan itu justru dapat membuat partikel kembali beterbangan. Abu sebaiknya terlebih dahulu dibasahi dengan air bersih, kemudian dibersihkan setelah lembap.
Di tengah kekhawatiran warga, pesan pemerintah sebenarnya sederhana: jangan panik, tetapi jangan pula menganggap enteng abu yang masuk ke lingkungan. Gunung Anak Krakatau memang berada jauh dari pusat Jakarta, namun ketika abu terbawa angin dan memengaruhi kualitas udara, ancamannya berubah menjadi persoalan kesehatan publik. Kesiapsiagaan menjadi penting, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga dengan penyakit pernapasan.
PVMBG sendiri meminta masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mempercayai kabar bohong mengenai potensi tsunami. Pemantauan aktivitas Anak Krakatau terus dilakukan, sementara status Siaga dan rekomendasi keselamatan tetap berlaku sampai ada evaluasi berikutnya.



























