HARIANTANAHAIR | Jakarta ~ Jakarta beberapa tahun terakhir sebenarnya sudah berubah. MRT makin ramai, TransJakarta makin panjang rutenya, trotoar mulai dibenerin, bahkan orang sekarang gak malu lagi update story naik KRL. Ada perasaan kalau kota ini pelan-pelan sedang belajar jadi kota modern, meski kadang masih suka error kayak aplikasi pas jam checkout konser.
Tapi di saat pemerintah sibuk ngomong integrasi transportasi, jalanan tetap penuh motor dari pagi sampai malam. Parkiran kantor penuh, SPBU tetap antre, dan lampu merah masih jadi tempat paling demokratis buat semua jenis cicilan kendaraan bertemu. Pertanyaannya sederhana: kalau transportasi umum makin bagus, kenapa orang masih setia sama motor?
Transportasi Publik Sudah Membaik, Tapi Perjalanan Masih Melelahkan
Masalah utama transportasi Jakarta sekarang bukan lagi sekadar “ada atau enggak”, tapi seberapa manusiawi pengalaman memakainya. Orang rela naik MRT, KRL, sampai TransJakarta kalau perjalanan terasa masuk akal. Masalahnya, sering kali perjuangan justru dimulai setelah turun dari stasiun.
Trotoar putus nyambung masih jadi tradisi urban yang belum punah. Jalan kaki 300 meter di Jakarta kadang rasanya seperti ikut survival game: panas, sempit, ketemu motor naik trotoar, belum lagi drama nyebrang yang bikin adrenalin lebih aktif daripada olahraga pagi.
Akhirnya banyak orang memilih motor bukan karena cinta polusi atau gengsi kendaraan pribadi. Mereka cuma capek. Setelah kerja delapan jam, yang dicari bukan pengalaman transportasi multimoda, tapi cara tercepat buat pulang tanpa harus merasa hidup sedang diuji negara.
Motor Bukan Sekadar Kendaraan, Tapi Alat Bertahan Hidup
Buat kelas pekerja Jakarta, motor itu bukan simbol gaya hidup. Itu alat bertahan hidup. Bisa dipakai ngantor, jemput anak, belanja, antar paket, sampai jadi cadangan kalau hidup mendadak butuh side hustle. Satu kendaraan, seribu fungsi.
Transportasi umum memang lebih murah secara hitungan teori. Tapi dalam praktiknya, orang juga menghitung tenaga, waktu, dan stres. Naik KRL mungkin cuma beberapa ribu rupiah, tapi kalau harus transit tiga kali sambil desak-desakan dan jalan jauh, banyak yang akhirnya merasa biaya mentalnya lebih mahal.
Di titik ini, Jakarta sebenarnya sedang menghadapi persoalan yang lebih besar dari sekadar kemacetan. Kota ini sedang belajar memahami bahwa mobilitas bukan cuma soal memindahkan tubuh manusia dari titik A ke titik B, tapi juga soal menjaga kewarasan mereka selama perjalanan.
Kota Modern Tidak Cukup Punya MRT
Punya MRT memang keren. Bisa jadi background foto, masuk video cinematic TikTok, sampai bikin warga merasa Jakarta akhirnya setara kota-kota besar Asia. Tapi kota modern tidak berhenti di rel bawah tanah dan halte estetik.
Kota modern adalah kota yang bikin orang nyaman berjalan kaki. Kota yang bikin ibu bawa anak tidak takut naik transportasi umum. Kota yang bikin pulang kerja tidak terasa seperti habis ikut kompetisi fisik tahunan.
Jakarta sudah bergerak ke arah sana, tapi jalannya masih panjang. Sebab pada akhirnya, ukuran transportasi publik yang berhasil bukan cuma soal jumlah penumpang atau panjang rute. Ukurannya sederhana: apakah orang merasa hidupnya lebih ringan setelah menggunakannya. *ACH























