Semoga Muktamar ke-35 NU membawa keberkahan, melahirkan gagasan-gagasan baru, dan semakin memperkuat kontribusi NU dalam meningkatkan kesejahteraan umat,” ujar Hasbiallah.
HarianTanahAir | Jombang ~ Ketua DPW PKB DKI Jakarta, H. Hasbiallah Ilyas, menyampaikan selamat dan sukses atas pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Ia berharap forum permusyawaratan tertinggi NU itu tidak sekadar menghasilkan kepengurusan baru, tetapi juga melahirkan gagasan yang mampu menjawab persoalan umat.
Menurut Hasbiallah, Muktamar ke-35 NU menjadi momentum penting bagi organisasi yang memiliki sejarah panjang dalam kehidupan sosial, keagamaan, pendidikan, dan kebangsaan tersebut. Tantangan umat yang semakin kompleks, kata dia, membutuhkan NU yang terus bergerak dan mampu membaca perubahan zaman.
“Semoga Muktamar ke-35 NU membawa keberkahan, melahirkan gagasan-gagasan baru, dan semakin memperkuat kontribusi NU dalam meningkatkan kesejahteraan umat,” ujar Hasbiallah.
Sebagai Ketua DPW PKB DKI Jakarta sekaligus pengurus PWNU Jakarta, Hasbiallah menilai NU memiliki posisi strategis dalam menjembatani kehidupan keagamaan dengan persoalan nyata masyarakat. Menurut dia, kerja keumatan tidak cukup berhenti pada forum-forum keagamaan, tetapi harus hadir dalam persoalan pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, hingga kehidupan sosial.
Bagi Hasbiallah, keberhasilan organisasi keumatan bukan semata-mata diukur dari besarnya struktur atau ramainya seremoni. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh kehadirannya dirasakan masyarakat.
“NU harus terus hadir di tengah masyarakat. Ukurannya bukan hanya seberapa besar organisasinya, tetapi seberapa besar manfaat yang diberikan kepada umat,” katanya.
Ia juga berharap Muktamar ke-35 NU dapat memperkuat semangat pembaruan. Perubahan teknologi, ekonomi, pola kerja, hingga persoalan generasi muda menuntut organisasi keumatan untuk tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga berani melahirkan pendekatan baru.
Menurut Hasbiallah, menjaga tradisi dan merespons perubahan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Justru di situlah tantangan NU: mempertahankan akar keislaman dan kebangsaan sembari memastikan organisasi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat hari ini.
“Umat membutuhkan organisasi yang tidak hanya bicara tentang persoalan, tetapi ikut bekerja mencari jalan keluarnya,” ujar dia.
Hasbiallah menambahkan, persaudaraan antarelemen umat juga perlu terus dirawat. NU, Muhammadiyah, dan berbagai organisasi Islam lainnya memiliki karakter serta tradisi masing-masing. Namun, perbedaan tersebut semestinya tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat luas.
“Selamat dan sukses Muktamar ke-35 NU. Terus bergerak, terus berkhidmat, dan terus menjadi bagian dari solusi bagi umat dan bangsa. Terima kasih, konco umat,” kata Hasbiallah.
Bagi Hasbiallah, pada akhirnya kekuatan NU tidak hanya terletak pada panjangnya sejarah atau luasnya jaringan organisasi. Kekuatan itu akan semakin berarti ketika diterjemahkan menjadi kerja nyata yang membuat kehidupan masyarakat lebih baik.



























