JOMBANG — Makam Gus Dur di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, bukan sekadar tempat orang menundukkan kepala. Di sana, sejarah politik Indonesia seperti kembali membuka percakapan: tentang keberanian, kemanusiaan, dan cara seorang pemimpin memperlakukan perbedaan.
Kesan itu yang terasa ketika Ketua DPW PKB DKI Jakarta, H. Hasbiallah Ilyas, berziarah ke makam Presiden keempat Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
Hasbiallah datang bukan hanya untuk membaca doa. Ziarah itu menjadi kesempatan untuk mengenang kembali jejak perjuangan Gus Dur—tokoh yang dalam perjalanan politiknya kerap mengambil posisi yang tidak selalu populer, tetapi berulang kali menempatkan kepentingan kemanusiaan di atas kalkulasi kekuasaan.
Gus Dur memang telah lama pergi. Namun gagasannya belum selesai.
Bagi Hasbiallah, perjuangan Gus Dur adalah warisan yang harus terus dirawat oleh generasi penerus, terutama dalam kehidupan kebangsaan yang semakin kompleks. Nilai toleransi, keberagaman, demokrasi, dan keberpihakan kepada kelompok yang kerap berada di pinggir kekuasaan tidak semestinya berhenti menjadi cerita sejarah.
“Perjuangan Gus Dur harus terus dilanjutkan. Nilai-nilai yang beliau perjuangkan harus menjadi inspirasi bagi generasi penerus,” ujar Hasbiallah dalam momentum ziarah tersebut.
Di titik itu, ziarah menjadi lebih dari ritual.
Sebab Gus Dur dikenal bukan hanya sebagai mantan presiden. Ia adalah tokoh yang meninggalkan jejak dalam perjalanan demokrasi Indonesia. Pada masa kepemimpinannya, agenda reformasi bergerak ke berbagai arah, termasuk penguatan supremasi sipil dan pemisahan TNI dan Polri yang menjadi salah satu tonggak penting era Reformasi.
Ia juga dikenang karena keberaniannya membela keberagaman. Tidak mengherankan jika makam Gus Dur di Tebuireng hingga kini menjadi salah satu tujuan ziarah yang didatangi masyarakat dari berbagai latar belakang. Penelitian mengenai wisata ziarah Tebuireng mencatat bahwa makam Gus Dur bahkan menarik peziarah lintas agama, sejalan dengan citranya sebagai simbol perdamaian dan keberagaman.
Tetapi ada satu persoalan yang lebih besar dari sekadar mengenang.
Apa yang dilakukan generasi hari ini terhadap warisan Gus Dur?
Pertanyaan itu menjadi penting ketika politik semakin mudah terjebak pada perebutan posisi, popularitas, dan kepentingan jangka pendek. Di tengah situasi semacam itu, gagasan Gus Dur justru terasa semakin relevan: politik tidak seharusnya kehilangan manusia.
Ziarah Hasbiallah ke Tebuireng seolah menjadi pengingat bahwa mengenang Gus Dur tidak cukup dengan mengunjungi makamnya. Yang jauh lebih penting adalah membawa nilai perjuangannya kembali ke ruang publik.
Keberanian membela yang lemah. Kesediaan berdialog dengan kelompok yang berbeda. Menghormati kebebasan beragama. Menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Itulah warisan yang tidak bisa ditinggalkan di kompleks makam Tebuireng.
Makam boleh menjadi tempat peristirahatan terakhir. Tetapi gagasan seorang tokoh tidak semestinya ikut dikuburkan.
Dan bagi Hasbiallah, perjuangan itu masih menjadi pekerjaan rumah generasi sekarang.
Sebab mengenang Gus Dur bukan soal seberapa sering orang datang berziarah. Ukurannya adalah seberapa jauh nilai-nilai yang ia perjuangkan tetap hidup dalam tindakan.



























